LAPORAN PERCOBAAN 11. Kromatografi Lapis Tipis

 LAPORAN

PRATIKUM KIMIA ORGANIK I

PERCOBAAN XI

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS





DISUSUN OLEH :

SONI FITRI BR NABABAN

(NIM : A1C119097)

 

DOSEN PENGAMPU :

Dr. Drs. SYAMSURIZAL., M.Si

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2021


 

VI. Data Pengamatan :

No

Perlakuan

Alat dan Bahan

Tujuan

Hasil Pengamatan

1.       

Disiapkan 6 plat KLT dengan Ukuran 8 X 2 cm

 Gelas kimia : Untuk wadah menampung

Gelas ukur : untuk mengukur massa yang dapat

Cawan penguapan : untuk melakukan penguapan

Oven : untuk memanaskan

Tusuk gigi : untuk mentotolkan tinta

Pipet volume : untuk memidahkan larutan

Filler : untuk menyedot larutan yang dapat dipasang pada pangkal pipet ukut.

Sinar UV : Untuk menerawang melihat kejelasan pada kenaikan noda

Penggaris : untuk membuat garis sebagai pembatas

Pensil : untuk membuat garis

Alumunium foil : sebagai penutup pada gelas kimia

Kertas saring : untuk melakukan pemisahan

Aquades : sebagai bahan campuran pada percobaan klt

Pelarut heksana : sebagai contoh  pelarut

Pelarut etanol : sebagai pelarut

Pelarut kloroform : sebagai pelarut

Plat KLT : sebagai bahan melihat pemisahan yang terjadi.

Untuk mempersiapkan alat dan bahan pengamatan

Plat KLT siap untuk digunakan

2.       

Diaktifkan plat KLT pada suhu 110°C selama 30 menit

Untuk memanaskan plat klt yang telah disiapkan

Plat klt siap di gunakan

3.       

Disiapkan campuran eluen 1:1 dari aquades heksana, aquades etanol dan aquades kloroform

Untuk menjenuhkan eluen

Eluen telah dijebuhka dengan pelarut yang berbeda

4.       

Ditutup mengunggunakan alumunium foil

Eluen yang disiapkan telah dijenuhkan

5.       

Dijenuhkan eluen, Kemudian Buatlah batas kira-kira 1 cm dari batas bawah dan atas plat dengan pensil

Klt yang telah ditotolkan siap dimatai

 

 

 

 

 

 

6.       

Ditotolkan sampel 1 ( tinta hitam ) pada garis batas bawah plat KLT

Untuk mengetahui batas dari klt

7.       

Dimasukkan plat KLT ke dalam gelas pengembangan

Untuk mengetahui perbandingan penjenuhan eluen dengan beberapa pelarut

Diperoleh plat klt yang telah ditotolkan mendapatkan hasil air pengembang mencapai batas dari plat klt

8.       

Dimasukkan plat KLT ke dalam gelas pengembangan

Untuk mengetahui perbandingan penjenuhan eluen dengan beberapa pelarut

Diperoleh plat klt yang telah ditotolkan mendapatkan hasil air pengembang mencapai batas dari plat klt

9.       

Diangkat plat KLT setelah cairan pengembangan mencapai batas atas dan

Untuk mengetahui batas dari hasil totolan yang telah diberikan air opengemang

Plat klt masing masing dari beberapa pelarut menghasilkan jarak klt yang berbeda beda

10.   

Didiamkan sejenak hingga kering dan dicatat hasilnya

Kemudian dilakukan penyinaran Sinar UV

Diperoleh hasil pada pelarut Aquades + etanol terdapat 1 noda hitam yang mana jarak noda dengan batas plat klt yaitu 2,9 cm

Pada Aquades+ Kloroform diperoleh hasil tidak terdapat noda

Pada Aquades + Heksana didapat hasil tidak terdapat noda

11.   

Dilanjutkan untuk sampel 2 (tinta merah) dan dilakukan perlakuan yang sama pada tinta hitam.

 

Untuk mengetahui jarak dan perubahan dari pergerakan noda dalam setiap pelarut

Diperolehhasil

Pada Aquades + Etanol terdapat 3 noda yaitu

A. Warna orange dengan jarak 2 cm

B.  Warna merah muda dengan jarak 3,1 cm

C.  Warna kuning dengan jarak 5,7 cm

Pada Aquades + kloroform terdapat 1 noda berwarna merah muda dengan jarak 1,9 cm

Pada Aquades + Heksana diperoleh hasil bahwa tidak terdapat noda

 

VII. Pembahasan

Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu analisis kualitatif dari suatu sampel yang ingin dideteksi dengan memisahkan komponen-komponen sampel berdasarkan perbedaan kepolaran. Prinsip kerjanya adalah berdasarkan adsorpsi dan partisi, dimana sampel akan berpisah berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini biasanya menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan. Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut. Prinsip eluen tersebut dalam melewati fase diam (terelusi naik ke atas) adalah bergerak berdasarkan prinsip partisi dimana fase gerak akan teradsorpsi pada permukaan dan mengisi ruang-ruang diantara sel penyerap, kemudian terpartisi

Prinsip pemisahan noda adalah berdasarkan kepolarannya sehingga menghasilkan kecepatan yang berbeda-beda saat terpartisi dan terjadilah pemisahan. Untuk memisahkan noda dengan sebaik-baiknya maka digunakan kombinasi eluen non polar dengan polar. Apabila noda yang diperoleh terlalu tinggi, maka kecepatannya dapat dikurangi dengan mengurangi kepolaran. Namun apabila nodanya lambat bergerak atau hanya ditempat, maka kepolaran dapat ditambah.

Pemilihan sinar UV yang digunakan yaitu UV 254 nm dan UV 366 nm, karena kedua UV ini telah mampu mewakili kedua jenis UV dekat. Dimana UV panjang diwakili oleh UV 366 nm dan UV pendek diwakili oleh 254 nm.

Pembuatan batas dilakukan dengan menggunakan pensil dikarenakan bahan pensil tidak dapat bereaksi dengan pelarut (eluen) yang digunakan. Eluen yang merupakan campuran dari n-heksan (C6H14) dan akuades (H2O) dengan perbandingan 1:1 dalam 5 mL. Kedua pelarut ini digunakan sebagai eluen dalam percobaan ini karena akuades (H2O) merupakan pelarut polar, sedangkan n-heksan (C6H14) merupakan pelarut non polar sehingga komponen dalam tinta yang bersifat polar dan nonpolar dapat dipisahkan akibat perbedaan kelarutan dari setiap komponen. Eluen berfungsi sebagai fase gerak yang akan mengelusi sampel sehingga terjadi pemisahan.

Pada percobaan ini menggunakan 2 sampel yaitu tinta merah, tinta hitam dengan menggunakan pelarut berupa campuran akuades (H2O) dan n-heksan (C6H14). Setelah mengikuti prosedur percobaan yang ada, diperoleh Diperolehhasil Pada Aquades + Etanol terdapat 3 noda yaitu Warna orange dengan jarak 2 cm Warna merah muda dengan jarak 3,1 cm Warna kuning dengan jarak 5,7 cm. Pada Aquades + kloroform terdapat 1 noda berwarna merah muda dengan jarak 1,9 cm. Pada Aquades + Heksana diperoleh hasil bahwa tidak terdapat noda perbedaan jarak antara noda yang ada dalam pelarut masing-masing.

Perbedaan jarak yang ditempuh zat terlarut disebabkan  karena dipengaruhi oleh kepolaran masing-masing tinta tersebut sehingga harga Rf yang dihasilkan juga bebeda. Larutan yang bersifat non-polar akan memperlambat proses kromatografi komponennya, karena komponennya bersifat polar, sehingga akan mempengaruhi harga Rf, karena perbedaan kelarutan serta sifat dari campuran tersebut.

VIII. Pertanyaan pascapraktek
      1.            Mengapa harus ada fase gerak dan juga fase diam pada kromatografi ?
      2.            Jelaskan mengapa disebut pemisahan kromtografi lapis tipis?
      3.            Bagaimana jika noda tidak mengalami pergerakan? Apakah ada yang mempengaruhi?

IX. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari percobaan ini yaitu:

1. Pemisahan dengan metode kromatografi lapis tipis dilakukan dengan cara menotolkan sampel pada lempengan lapis tipis kemudian memasukkannya ke dalam chamber yang berisi eluen dengan perbandingan pelarut tertentu.

2. Prinsip kerjanya adalah berdasarkan adsorpsi dan partisi, dimana sampel akan berpisah berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini biasanya menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan.

XI. Daftar pustaka

Gritter, Roy J, dkk. 1991. Pengantar Kromatografi Edisi Kedua. Bandung : ITB

JR, Ray,Day dan Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga

Svehla, G. 1979. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta : PT. Kalman Media Pusaka.

Takeuchi Yoshito. 03-01-2009. Kromatografi. Online. http://www.chem-is-try.org/materi kimia/kimia dasar/pemurnian-material/kromatografi/ . Diakses tanggal 02 Mei 2021.

Komentar

  1. Baiklah, saya Suci Rohana Putri Tambunan (A1C119050) akan menjawab soal no. 1
    Karena fase gerak berperan sebagai sampel yang akan dipisahkan, sedangkan fasa diam berperan sebagai pelarut/eluen/cairan penyari yang akan memisahkan sampel

    BalasHapus
  2. Baiklah saya Esra Oktapriani Gultom (A1C119059) akan menjawab pertanyaan no 2.
    dikatakan kromatografi lapis tipis karena cara menotolkan sampel pada lempengan lapis tipis kemudian memasukkannya ke dalam chamber yang berisi eluen dengan perbandingan pelarut tertentu.

    BalasHapus
  3. Baiklah saya Erina Shafura (A1C119068) akan menjawab pertanyaan no. 3

    Apabila tidak terjadi proses pemisahan terhadap noda maka hal yang mempengaruhi yaitu dari sifat kepolaran antara fasa diam dan geraknya serta ukuran pada molekulnya. Untuk itu sebelum melakukan pemisahan kromatografi lapis tipis perlu ditentukan sampel yang digunakan sebagai fasa diam dan fasa gerak berdasarkan sifat kepolaran dan karakteristik dari sampel tersebut.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PERCOBAAN 5. (REAKSI-REAKSI HIDROKARBON).

Jurnal Percobaan 10 (Pembuatan Sikloheksanon)

Jurnal percobaan 2. (Penentuan Kelas Kelarutan)